Minggu, 20 November 2011

[daily] Kerudung Hitam

Emak sering berkata “Kalo beli baju kenapa musti hitam sih?”.
Itu komentarnya dulu, menanggapi saya yang hanya suka warna hitam, dan kemana-mana selalu pakai baju warna hitam.
Walaupun banyak orang menganggap warna hitam adalah kesedihan. Tidak dengan saya, karena bagi saya hitam itu berani. Bahkan iklan shampo pun pake jargon “pake hitam siapa takut”.

Hingga beberapa hari yang lalu, saya packing persiapan pulang ke Indonesia (karena si Emak masuk ICU) dan menemukan kerudung hitam yang baru dicuci. Kerudung yang biasa jadi bawaan wajib kemanapun saya pergi.
Saya masukkan kerudung hitam dalam-dalam ke dalam keranjang. Ngga pengen lihat kerudung itu, karena tiba-tiba saya merinding dan takut. Saya takut warna hitam.
Yap, kerudung hitam tidak masuk daftar list bawaan pulang.

Pagi tadi, kerudung hitam keluar dari keranjang, disetrika karena harus dipakai.
Emak sudah menghadap Maha Pemilik Cinta, Emak meninggal dalam tidurnya yang lelap. Tidur yang ternyata untuk selamanya.
Innalillahi wainnailaihi rajiun.

Saya sering berdoa, jika Dia berkenan saya ingin mati muda. Bukan karena amalan saya yang terlampau bagus, tapi ingin mendahului Bapak dan Ibu, karena saya pasti ngga bisa kuat, ngga bisa ikhlas.
Kun Fayakun.
Dan alhamdulillah insya Allah bisa ikhlas.

Ngga pengen berbagi duka, hanya sekedar berbagi susahnya belajar memahami makna “titipan”. Sesuatu yang sementara jadi milik kita, dan suatu hari pasti diambil oleh Yang Maha Memiliki.

Dan ketika titipan itu diambil, semua terasa berat, bukan sekedar berat melepas titipan pergi. Tapi lebih karena berat mengingat banyak hal yang lupa atau belum terpenuhi, pesan dan nasehat yang sering terlalaikan, harapan yang belum terwujud dan banyak hal lainnya.
Dan apakah titipan akan bahagia karena pernah ada di tangan kita?

Seperti juga Emak. Malaikat yang pernah dititipkan ke keluarga saya.
Jangan ditanya bagaimana rasanya. Lebih dari sekedar gagal SPMB ataupun patah hati. Sering berharap saya tiba-tiba terbangun dan ternyata ini hanya mimpi. Sangat berat melepas orang yang mengajari saya berjalan untuk pertama kalinya.
Tapi Allah Maha Baik, mencintainya dan ingin mengambilnya segera.
Semoga Emak bahagia di dunia barunya.

Saya heran bisa sekuat ini.
Dan semua karena cintaNya dan teman-teman hebat yang selalu ada disekitar saya.
Yang menenangkan, memberi semangat, mengirim doa, mengirim sms+email, pontang panting cariin tiket balik, jenguk Emak pas masih di RS, bikin pengajian dadakan, dan bahkan rela tidur di kamar saya yang berantakan.
Mereka ngga ingin saya sedih berlarut-larut, semata-mata agar Emak tenang melepas dunianya.

Senang ada diantara orang-orang baik. Priceless.
Ngga tau harus bilang makasih seperti apa, ngga tau udah ngerepotin seperti apa.
Thanks a million!

Banyak hal di luar dugaan, banyak hal ngga sesuai rencana.
Seandainya kita bisa mengatur segalanya seperti yang kita inginkan, seandainya kita punya tombol undo untuk mengulang sesuatu, mungkin sulit untuk bisa dewasa.

Entah mengapa sejak Emak masuk RS, ngga henti-hentinya saya membaca puisi ini.
Sangat recommended, agar kita bisa menjaga titipan dengan baik, sebelum semua terlambat.
Terus berusaha menjadi lebih baik, agar setiap titipan merasa bangga pernah ada bersama kita.

---

Selamat jalan bidadari cantik.
Mohon dimaafkan segala kekhilafannya.

---

Nagoya, 11 Juni 2010

#repost dari tulisan saya di facebook, setahun yang lalu ;)

Minggu, 30 Januari 2011

[daily] Hidup adalah Memaknai

Selamat hari minggu pemirsa!

Beberapa waktu yang lalu dapet email Facebook dari si Polar, yang entah nanya entah nyindir bilang “wah masih ngeblog ya mbak, kirain uda nggak”, hehehehhe.
Life happens, banyak hal terjadi dan jadilah rumah reyot ini terbengkalai tak terurus *alasan belaka*
Anyhow, let’s start ngegombal!

Seminggu yang lalu, si saya dapet berita duka, Diah Ayu a.k.a Kety temen satu kost pas kuliah dulu meninggal karena penyakit lupus.
Dejavu, berasa sebuah sore di bulan Juni. Mendengar kata “lupus”, penyakit yang juga membawa si Emak pergi menghadap Sang Maha Cinta.
Kety. Ngga kenal secara personal, tapi tahu kalo Kety anak manis, pinter dan baik banget.
Mungkin karena Allah begitu menyayanginya, dia diambil begitu cepat.

Dan kemudian beberapa hari yang lalu, dapat kabar duka lagi, Ibu dari Ucik, temen sebangku waktu SMA, meninggal dunia.
Secepatnya si saya mengirim sms belasungkawa dan dia menjawab dengan balesan yang bikin saya terharu, “Berat banget che, udah kangen”.
Sabar ya kawan ;)

Dan begitulah usia seseorang. Ngga ada yang bisa merumuskan jumlahnya.
Dan di akhir jumlahnya, selalu membawa kesedihan untuk orang disekitarnya. Tapi, apakah berpisah dengan dunia berarti berpisah dengan kebahagiaan?
Saya sering berdoa, semoga tempat Emak disana lapang dan terang. Saat itu juga saya bertanya, apakah Emak sedang bahagia ataukah sebaliknya?
Semoga Emak bahagia disana.

Pas kuliah dulu sering ikutan trainingnya ZenDin (mencoba mencari websitenya ngga nemu, huhuhu).
Di setiap akhir seminarnya semua peserta pasti disuruh menuliskan sebuah kalimat dengan huruf besar, Hidup adalah Memaknai!
Sesuatu menjadi hitam karena kita berpikir itu hitam, menjadi merah karena kita menganggap itu merah.
Seperti itu juga kematian mungkin harus dimaknai dengan cara lain. Menyedihkan memang, tapi bukan berarti semua ada tanpa hikmah. Kematian adalah sebuah awal dari cinta baru.
Dan akankah kita cemburu, sedangkan dia yang meninggalkan kita sedang dalam perjalanan menuju kekasihnya?

Ada teman yang memprotes setiap tulisan saya tentang Emak. Katanya seolah-olah si saya ngga bisa ngilangin rasa sedih karena ditinggal Emak.
Sedih iya, tapi tidak pernah membiarkan diri untuk terus terjatuh. Kadang kita perlu jatuh dan mencium tanah untuk merasakan bagaimana segarnya udara saat bangkit ;)

Dan tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat tercinta, Kety dan juga Ucik yang baru ditinggal ibunya.
Seperti kita yang memilih bunga terbaik saat memetiknya, begitu juga Allah akan memilih orang-orang terbaik untuk dipetikNya terlebih dahulu.

Selamat jalan Kety, selamat jalan ibunda Ucik ;)
Semoga Sang Maha Menjaga selalu menjaga rumah baru kalian, Amin.

---

Dan sudahkah hidup kita termaknai dengan baik?

Jumat, 31 Desember 2010

[daily] Hari Ibu

Akhirnyahhhh! Setelah blog ini dibiarkan jamuran dan sedikit kudisan, punya mood juga buat nyelesaiin satu gombalan lagi.
Makasih buat yang selalu nanyain update-an terbaru blog ini. Ah, si saya jadi berasa se-terkenal Ndoro Kakung *lebay*

Terinspirasi dari kawan baik yang ngeshare ulang blognya ini, dimana si saya kasih komen fantastis (menurut die), jadilah saya tergelitik *ih, bahasanya* bikin tulisan tandingan, hahahahaha.

Blog diatas bercerita tentang protes si teman saat menanggapi gegap gempita 22 Desember, hari Ibu.
Hari dimana trending topic di semua jejaring sosial bercerita tentang Ibu. Dimana buanyak orang yang ngeganti profil picture jadi foto-foto bareng Ibunya.
Begitu hebatnya Ibu, yang walaupun (mungkin) ngga punya facebook, blog, twitter, dll, tapi mendadak menjadi artis terkenal di dunia maya pada hari itu.
Lalu dimanakah Ibu selain di hari 22 Desember? Hari-hari dimana negeri ini tidak memperingati keberadaannya.

Berbeda dengan kawan baik diatas, si saya ngga eneg ko baca status-status yang terkesan musiman itu. Dan merasa itu sesuatu yang sangat wajar sekali. Sewajar ketika semalaman hampir semua status facebook ngebahas kekalahan Timnas Indonesia di Piala AFF.

Sebenernya pada hari itu si saya juga pengen bikin status facebook, sesuatu tentang Emak. Tapi berhubung akses broadband berlogo angka 3 berkecepatan kura-kura milik saya lagi ngambek, jadilah status batal tertulis (dan baru tertulis beberapa hari sesudahnya).
Entahlah apakah si saya ikut-ikutan latah, alay, atau banci status, ngga masalah. Saya hanya menulis apa yang ingin saya tulis *preeeeeeeett!*

Dan kemudian, apakah gegap gempita tersebut salah dan hanya sekedar menandakan ungkapan cinta satu malam, errrr maksud saya cinta satu hari saja?

Kalo ngga salah ada pepatah yang bilang, kasih Ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.
Betapa pendeknya kasih si anak kalau dibandingkan sama kasih yang Ibu punya.
Bagi saya, cinta saya buat Emak saja lebih besar dari dunia. Jadi iseng ngitungin, seberapa besar ya cintanya si Emak buat saya. Gede buanget pastinya :X

Lepas dari pendeknya kasih si anak, rasanya ngga ada anak yang cintanya ke si Ibu hanya sebatas sepotong status facebook. Dan keknya juga ngga ada yang salah seandainya ucapan-ucapan tersebut ngga terbaca oleh sang Ibu.

Kebetulan sejak dulu saya suka banget menulis apapun tentang Emak. Entah itu puisi, ataukah sekedar remeh temeh tentang si saya dan si Emak.
Dan tak satupun dari tulisan saya yang terbaca oleh Beliau. Jangankan mainan internet, lhawong me-shutdown laptop aja si Emak ngga bisa ko.

Lalu pentingkah tulisan itu terbaca?
Rasa-rasanya sih ngga penting.
Bagi saya rasa sayang, cinta atau apapun ngga pernah butuh kalimat eksplisit yang denotatif, karena tentu saja yang paling penting adalah kualitas *hahaha, bahasanya*

Kita ngga pernah tau sedalam apa cinta seseorang kepada seseorang yang lain. Dan karena itulah ngga akan bisa diukur cinta si-pembuat-status tersebut kepada Ibunya.
Walaupun hanya sehari, bukan berarti cinta juga sehari, imho ;)

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah perjalanan mudik saya ketemu sama seorang Ibu yang menggendong anaknya yang masih bayi. Si saya terkejut karena si Ibu ngegendong sambil menghisap rokok. Rasa terkejut berubah jadi campur aduk pas ngelihat Ibu itu kemudian mencium si anak dalam-dalam.
Ah cinta, pernahkah panjenengan paham benar bagaimana mengungkapkannya?
Saya belum menemukan jawaban paling tepat.

Ok well, uda ngga happening sih, tapi dengan segala hormat:

SELAMAT HARI IBU!!

Dan apapun tentang Ibu, akan tetap terdengar merdu.

---

Entah tanggal berapa hari ini, kukirim salam termanis untukmu
Seperti dahulu saat kita masih bersama, aku masih mencintaimu
Dan sekarang kita ada pada ruang berbeda, aku masih ingin memelukmu

Masih kuingat saat kamu mengajariku menahan air mata
Juga saat melatih bibirku untuk tersenyum saat marah
Dan begitulah aku, yang belajar kuat darimu
Sekalipun aku sangat cemburu padaNya, yang mengambilmu begitu cepat

Entah tanggal berapa hari ini
Kukirim salam termanis untukmu
Selamat hari Ibu, Emak

#kamar-kost-yg-panas, 20101230


Sabtu, 20 November 2010

[quick update] Anma - Kariyushi58

Selamat hari Sabtu!
Great weekend with badan panas dan batuk-batuk, duh!

Pengennya nge-re-upload videonya Kariyushi58 yang judulnya Anma, tapi ngga tau kenapa ko ngga bisa nya?

Dapet dari teman baik, yang ngepost lagu ini di facebooknya:
"post again, special for Oche Andari ...keep strong gals...a song about mom.."
Sankyuuu, Kris kun, KEREN!!
クリス君はいい友達だね。。

Melting banget dengerin lagu ini.
Silahkan nyang mau dengerin bisa ke TKP!

---

Ini liriknya, cekidot ;)

Minggu, 14 November 2010

[daily] Thank You Allah

Weekend, mood seminggu kemarin baru mulai muncul, hahahaha.

Apa kabar pemirsa?
Hope everyday is Saturday, errrr maksud saya hope everyday is a great day ;))

Beberapa hari yang lalu, saya ketemu sama teman lama yang kenal sebelum si saya diekspor ke Japun dulu. Mbak ini, sebut saja namanya Mbak Cantik, uda hampir sepuluh tahun kerja di perusahaan tempat saya bekerja.

Percakapan pun dimulai dengan rasa kaget karena setelah sekitar 3 bulan lebih kepulangan saya, kita baru ketemu hari itu.

Mbak Cantik : Oche yaaaah? Apa kabar dek? Akhirnya balik juga yah?
Oche : Benernya ngga pengin pulang siy *ketawa kecut*
Mba Cantik : Gimana-gimana? *** tahun yah? (si Mbak menyebut tahun ikatan dinas saya)
Oche : Hahaahha *ketawa kecut (lagi)*
Mba Cantik : Gimana dong, harus kerasan dong yah
Oche : Ya iya sih, tapi kan Mba Cantik aja bisa tahan 10 tahun, masa saya engga
Mba Cantik : Ya kan itu gue Che. Kalo orang-orang kaya lu mah pasti uda kebelet pengen cabut dari sini
Oche : Sama aja ah
Mba Cantik : Ya kalo gue uda syukur masih bisa kerja disini
Oche : Hehehe, saya juga ko mba *hoax!*

Percakapan berhenti karena si Mba mau antri ATM.
Teriring perasaan gundah gulana saya *lebay*, dan sebuah kesimpulan singkat, betapa setiap orang mempunyai level bersyukur yang berbeda.

Mungkin saya akan bersyukur saat dapet uang sejuta.
Mungkin anda akan bersyukur saat dapet uang 500 ribu.

Begitu juga dengan si Mba Cantik. Masuk perusahaan ini saat masih lulus SMA, dengan menyisihkan sebagian gajinya nyambi kuliah dan sekarang sudah jadi sarjana. Berbeda dengan saya dan beberapa teman yang dateng saat sudah pake bekal ijazah sarjana.

Dan seperti yang si Mba bilang, yang walaupun saya bantah tapi dalam hati juga mengamini, orang-orang seperti saya masih sering merasa kurang dengan apa yang ada. Berbeda dengan dia yang uda syukur dapet kerja di tempat sekarang, si saya masih ingin dapet kerja yang lebih baik (gajinya) :D

Well, salahkah punya cita-cita menjadi lebih baik?
Ya tentu saja ngga salah. Cuman aja, bukan itu konteks yang ingin saya bicarakan disini *dahsyat bahasa sayaaa*.

Tiba-tiba saya jadi tertohok.

----

Di lain hari, sore-sore pas otw pulang dari kerja, si saya menyapa teman SMA yang juga teman satu kost pas kuliah. Sebut namanya Teman Cantik.

Oche : Hui, uda pulang?
Teman Cantik : Jam 2 pulang, mainan mesin jahit, ngajar ngaji, mainan sama anak-anak kecil, hahaha
Oche Cantik : Huwaaaa, enaknyaaaa
Teman Cantik : Yo ngene iki urip nang ndeso ki (Ya gini ini hidup di desa itu)
Oche : Ngiri aku bu, pengen muleh rasane (Saya ngiri bu, rasanya ingin pulang)
Teman Cantik : Aku yo ngiri kok. Pengen dadi wanita metropolitan (Saya juga ngiri ko. Ingin jadi wanita metropolitan)
Oche : *ngakak*

Saya ngga bohong masalah perasaan ngiri saya.
Aiiiih, saya tertohok lagi.

Kebahagiaan itu relatif, variabel yang ngga bisa terukur sama sekali.
Kembali lagi rasa syukur itu ukurannya beda-beda.
Saat saya masih mengukur kebahagiaan dari hidup bergelimang karir dan gemerlap kota, si Teman Cantik punya pemikiran yang berbeda, sederhana tapi sangat jauh lebih hebat dibanding cara menilai kesuksesan dimata saya.
Diam-diam saya begitu mengagumi si Teman cantik. Begitu simple dia memaknai hidup.

Saya? Seringkali merasa hidup begitu complicated dan begitu susah menemukan celah untuk disyukuri.
Padahal tiap hari makan enak, bangun pagi dengan tenang, gaji ngga kurang (walopun ngga lebih juga siy, xixixixi).
Tapi melihat atas masih ngiri, bahkan ngelihat bawahpun masih ada yang di-iri-in. Apa-apaan ini.

Ya kalo ikhlas dan sabar itu pelajaran yang susah, si syukur juga pelajaran yang ngga mudah.
Kalo kata Mario Teguh idola saya, inginkan apa yang anda miliki.
Jadi ya harus belajar menikmati apa yang sudah kita punya ;)

Bagaimana dengan panjenengan?
Saya yakin panjenengan sudah bisa memaknai lebih baik dibanding dengan saya ;).

---

Ah, seandainya si Emak masih ada, mungkin beliau akan memeluk hangat saya sambil bilang: hidup itu sawang sinawang, nduk.

Jadi kangen ;)

Then which of the favours of your Lord will you deny?
[QS 55:13]

---

Thank You Allah!

Duh Gusti, akan senang sekali jika Engkau memberikan rejeki lebih untuk membeli iPhone atau minimal hape android.
Tapi seandainya tidak pun, ada di titik ini aku sudah sangat merasa bahagia.

Bahagia karena masih Kau cukupkan nikmatMu padaku.
Semoga cintaMu tak pernah berpaling, amin ;)

Sabtu, 06 November 2010

[poem] ママへの手紙・surat untuk mama

oche : kalau aku punya rumah, mam tinggal di bekasi juga yah
mama : ya ngga harus lah

mbaak, sahur mbaak!
mbak kost merusak mimpi indah saya.


夢だったけど。。 [yume datta kedo..]
ちょっとだけ話したけど。。 [chotto dake hanashita kedo..]
ママに会えたって嬉しかった。 [mama ni aeta tte ureshikatta.]

ママ、こちらの様子が見えるの? [mama, kochira no yousu ga mieru no?]
私は元気だよ。 [watashi ha genki da yo.]
昨日風邪が引いたんで、 [kinou kaze ga hiitande,]
咳もなかなか止まらなかったけど。。 [seki mo naka naka tomaranakatta kedo..]
今は大丈夫だよ。 [ima ha daijoubu dayo.]

私、いっぱい心配かけてごめんね。 [watashi, ippai shinpai kakete gomen ne.]
いっぱい迷惑かけてごめんね。 [ippao meiwaku kakete gomen ne.]
いつもいつも私と一緒に笑ってた、 [itsumo itsumo watashi to waratetta,]
私の気持ちをよく理解してくれた。 [watashi no kimochi wo yoku rikai shite kureta]
ママの娘でとてもよかった。 [mama no musume de totemo yokatta]

人生には取り返しのつかないがいっぱいある。。 [jinsei ni ha torikaesi no tsukanai ga ippai aru..]
逃げないでね、って言われたときに、 [nigenaidene, tte iwareta toki ni,]
わくわくして、頑張ります。 [waku waku shite, ganbarimasu]

私は、幸せに暮らしてるから [watashi ha, shiawase ni kurashiteru kara]
ママ、心配しないでね。 [mama, shinpai shinaidene.]
ママにすごく会いたいから、 [mama ni sugoku aitai kara,]
思わずにこれの手紙を書き込んだ。 [omowazuni kore no tegami wo kakikonda.]
返事を書かないで、 [henji wo kakanaide,]
ママの笑顔を思い出すと十分です。 [mama no eiga wo omoidasu to jubbun desu.]

ママが大好き。 [mama ga daisuki.]
生んでくれてありがとう! [unde kurete arigatou!]

オチェより~ [oche yori~]

Bekasi, 28 Agustus 2010

----

oche : kalau aku punya rumah, mam tinggal di bekasi juga yah
mama : ya ngga harus lah

mbaak, sahur mbaak!
mbak kost merusak mimpi indah saya.

cuman mimpi sih
...cuman ngomong dikit sih
tapi bisa ketemu mama, ak seneng

mama, disini kliatan ngga?
aku sehat-sehat aja
kemaren sakit
batuk ngga berhenti-henti
tapi sekarang uda ngga apa-apa

maap ya aku sering bikin kawatir
maap ya sering merepotkan

selalu dan selalu mam ketawa bareng aku
selalu mengerti dgn baik perasaanku
jadi anak mama sangat menyenangkan

dalam hidup banyak hal yg ngga bisa diubah
saat dibilang: jangan melarikan diri yah
dengan semangat aku berusaha

aku sekarang bahagia
mama jangan kawatir yah

karena bener-bener pengen ketemu mama
tanpa pikir-pikir surat ini aku tulis
ngga usah dibales,
inget sama senyum mama udah cukup

i love mama
makasih uda melahirkanku

dari oche

Bekasi, 28 Agustus 2010

---

posted on my facebook note ;)

Selasa, 26 Oktober 2010

[daily] mereka yang hebat

Hossssssssh, sebulanan lebih ngga apdet si blog untungnya ngga lupa sama password. Sabtu kemaren dapet sms dari jeng iLLa yang ngajakin ke pesta Blogger minggu depan, barulah saya nyadar kalo punya rumah yang ngga keurus ini, hohohoho.

Ngga punya bahan yang mau diomongin, marilah kita ngegosip ngalor ngidul.
Akhir-akhir ini, dunia pertipian dihiasi ajang-ajang pencarian bakat, yang kalo ditilik lebih lanjut itu acara nyontek kesuksesan acara Britains Got Talent tempat saya terlahir sebagai bintang dahulu *muntah!*. Walopun terkesan ngga kreatif ya sah-sah aja sih, cuman gara-gara yang latah buanyak jadinya bosen juga ngeliat tipi isinya audisi ini itu.
Bosen tapi tentunya lebih menarik dibanding sinetron yang isinya teriak-teriak mulu.

Ok lah, mengesampingkan hal tersebut diatas *hihihi bahasanya*, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya. Salah satunya adalah kemenangan grup keroncong dari Surabaya di acara IMB (Indonesia Mencari Bejo) kemarin.
Grup yang tiap minggunya saya kirimin sms dukungan beserta doa setulus hati biar menang ini benar-benar memberi inspirasi kepada banyak orang terutama orang-orang pinggiran. Kemenangan itu berhasil membuat mereka menyejajarkan diri dengan para artis yang digilai banyak fans.
Bahkan saya pun udah ngefan dengan gila sama salah satu personilnya.
Ok lah, kalo masalah gila si saya emang udah dari dulu gilanya *sigh*.

Kapan hari itu debat kusir sama Juragan saya. Debat masalah layak dan tidaknya mereka disebut berbakat.
Kalo kata si Juragan sih, mereka belum layak disebut berbakat. Mereka lebih tepat disebut beruntung karena masih banyak pengamen-pengamen jalanan yang kualitasnya lebih bagus, yang sayangnya ngga seberuntung mereka.
Kalo yang namanya berbakat, ya si kecil penggebuk drum itu. Begitu kata Juragan yang kebetulan emang ngefan abis sama salah satu peserta kecil yang jago ngedrum.

Well, ngga salah.
Ngomongin kualitas, tentu aja mereka belum seberapa *uda brasa Titi Sjuman aja ini komen, wkkwkwk*.
Tapi marilah kita bicara tentang perjuangan. Kalo dibandingin dengan kita, maaf, maksudnya si saya, yang mendapatkan segala sesuatu dengan biasa-biasa dan datar-datar aja, mereka sangat bisa diberi acungan jempol.
Pigimana engga, berasal dari pengamen jalanan dengan penghasilan ngga tentu, mereka berhasil meraih sukses dengan usaha dan kerja kerasnya.
Instant? Hummmm, engga juga. Toh mereka juga uda makan asem garam bertahun-tahun di jalanan.

Yakin.
Mungkin itulah rahasia dibalik keberhasilan mereka. Yakin bahwa hanya dengan usaha keras cita-cita setinggi apapun bisa tercapai. Yakin bahwa Yang Maha Berkuasa ngga pernah tidur dan ngga pernah melupakan nasib hamba-hambaNya yang bekerja keras.

Pernah pada suatu hari acara “Tendang si Andy” mendatangkan tamu Rindu Band. Grup band yang backgroundnya juga dari orang-orang menengah kebawah. Salah satunya adalah mantan penjual cendol kalo ngga salah (cmiiw).
Jujur saya ngga suka banget sama grup band ini.
Tapi ngelihat mereka di acara itu, dan kemudian dengerin kisah idup mereka, si saya-pun menangis bombay *sial*.
Betapa kesuksesan itu ngga ada yang cuma-cuma.

Melihat mereka seperti pertama kali ngebaca novel Laskar Pelangi.

Tertohok.
Terlahir dalam kondisi berkecukupan, tapi ngga punya semangat setinggi mereka yang hidupnya penuh belokan tajam.

Lalu siapa yang harusnya dibilang beruntung?
Rasanya kata beruntung ngga tepat diberikan kepada mereka-mereka yang uda berjuang mati-matian mewujudkan mimpi.

Kadang-kadang semangat paling tinggi justru muncul saat kondisi terlemah. Walaupun ngga sekeren mereka, minimal punya semangat itu penting.
Nggih nopo boten?

Dream, believe and make it happens!
G A N B A R E E E E E ! !